BUNGA UNTUK
NIDA

“Selamat pagi, Namaku Nida umurku 16 tahun, hobbiku melukis“
Perkenalan yang selalu ada di setiap awal
memassuki sekolah baru.Nida anak yang cantik, pendiam, berjilbab dan sangat
rapi.Dia selalu membawa handicham ditanganya, setiap moment yang ada di
sekitarnya dia abadikan dengan handicham kecilnya.Dia anak yang periang, pintar
suka membantu teman – teman yang tidak bisa dalam pelajaran.Semua anak
menghormatinya karena sifatnya yang sekidit berwibawa.dia tidak pernah mengeluh
karena dimintai bantuan untuk mengajari atau pun di conteki pekerjaan rumahnya.
Semua Pelajaran dia sukai, apalagi seni
budaya dia sangat pandai dalam mengekspresikan apa yang ada di otak, sekitar
atau hatinya. Goresan demi goresan dituangkan dalam kanvas dan buku
gambar.Apapun lomba dia ikuti hingga dia mendapatkan gelar juara karya tulis
ilmiah, lomba membuat desai kapal yang diadakan oleh ITS SURABAYA.
“Hai nida kamu udah daftar buat lomba madding?” Tanya Rita.
“udah ta, ini aku juga sedang memikirkan konsep tema buat lomba “
kata Nida
“Mungkin kita bisa jadi satu kelompok buat ikut lomba Nid, siapa
tau ini rejeki kita. Ya gak ?“ kata Rita
“rejeki kita atau tidak kita harus tetap menampilkan yang terbaik,
meskipun tidak menang tapi kita sudah bisa mendapat pengalaman dari perlombaan
ini. Pengalaman lebih berharga daripada kemenangan” kata Nida
Dia tidak pernah memikirkan juara dalam
mengikuti lomba, dibenaknya hanya ingin menampilkan suatu karya yang bisa
dinikmati oleh semua orang.Tema tentang GO GREEN yang diangkatnya agar dapat
membuat bumi semakin asri dan indah, kepiawaianya dalam memakai kuas
menghasilkan sebuah karya sebuah pohon yang indah dengan bentuk menyerupai bumi.Uraian
dari temanya serta pesan, kesan dan kesimpulan dari tema GO GREEN yang dia sampaikan
telah bisa mengalahkan para pesaingnya.Dia mendapat juara 2 dari 27 peserta
madding se - kabupaten.Sebagai perwakilan dari sekolahnya dia mendapat hadiah
dari kepala sekolah berupa uang sebesar 200 ribu.Saat itu uang 200 ribu sudah
begitu banyak baginya.Selain disisihkan uangnya dibuat untuk membelikan makanan
teman – teman kelas sebagai ucapan syukur atas kemengannya.
“Nida selamat ya kamu bisa menang “ ucap Nurul
“Alhamdulilah kemenanganku karena Allah “ kata Nida
“Semua ayo ikut aku dan Nida ke kantin, hari semua makan gratis”
kata Rita
Dengan wajah yang sumringah semua bergegas
menuju kantin untuk menikmati makan gratis. Baginya kebahagiaan itu bisa
membuat orang lain bahagia dan ikut bersyukur atas nikmat Allah. Setiap sore
semuanya berkumpul di Alun – alun kota untuk belajar sekaligus berkumpul untuk
sekedar menghilangkan kepenatan. Setiap belajar bersama Nida selalu ikut mengajari temannya, meskipun dalam
pelajaran lainya dia tidak begitu pandai, Dengan raut wajah iklas dia mengajari
dan memberi soal untuk dikerjakan oleh teman – temanya.
Para guru di sekolah sangat sayang padanya,
dia mempunyai akhlak yang bagus sehingga membuat semua orang menyayanginya.
Gaya bicara, gaya pakaian yang sederhana membuatnya terlihat cantik luar dan
dalam. Nida termasuk anak orang menengah kebawah.Bapaknya seorang tukang cukur,
sedangkan ibunya penjual kue di pasar.Dia mempunyai adik perempuan yang masih
kecil, tapi apapun keadaanya dia tetap bersyukur.
Saat itu pukul 08.15 pelajaran fisika sedang
berlangsung, tiba – tiba Nida pingsan di tempat duduknya.Awalnya semua mengira
dia ketiduran tapi saat di panggil tidak ada reaksi sehingga guru fisika harus
membawanya ke ruang UKS.Saat ditanya dia tidak mengakui kalau sakit, alasanya
hanya kelelahan saja.Tanpa ada kecurigaan semua percaya begitu saja.Tetapi
semenjak saat itu Nida mulai sering tidak masuk dengan alasan sakit.Pada hari
kamis teman kelasnya sepakat untuk menjenguk Nida dirumahnya. Jam pulang
sekolah mereka langsung bergegas menuju rumah Nida.
“Nid kamu kenapa sering tidak masuk? Kamu sakit apa ?” Tanya Jojo
“Tidak apa Jo, hanya terkena typus saja jadi butuh istirahat cukup
“ jawab Nida
“Ohh iya Nid, para bapak ibu guru pada nanyain kamu lo, kita juga
jadi gak ada yang nyonteki saat ada pr.” Kata Hasan
“Kamu bisa aja Han, ya kamu nyontek Siska aja dia juga bisa kok”
jawab Nida
“Yee kamu Nid, males ah buat nyonteki anak - anak“ sahut Siska
Saat itu Nida juga menyalakan handichamnya
untuk merekam moment – moment itu, saat ditanya Siska kenapa dia selalu membawa
handicham ditanganya, hanya senyuman yang dia lontarkan.Bapak Nida tidak
dirumah karena sedang bekerja sedangkan ibunya sibuk menyiapkan makanan untuk
teman – teman Nida.
“Ehemm, perutku kok sudah mulai nyanyi – nyanyi ya “ Kata Aldo
“Yaelah Do kamu dimanapun hanya makanan aja yang difikirin” Jawab
Jojo
“Namnya juga manusia butuh makan nanti kalau tidak makan bisa
mati” saut Aldo
“Emangnya kalau gak makan sejam bisa lagsung mati Do? Gak juga keles”
tambah Siska
Suara tertawa membuat Nida bahagia mempunyai
teman – teman seperti mereka Tidak terasa waktu menunjukan pukul 15.34, Sudah
dua jam lebih Nida mengambil gambar keceriaan para teman – temanya.Mereka mulai
berpamitan karena hari sudah mulai sore.Setiap Nida sendiri dia selalu memutar
– mutar rekaman yang diambilnya.Terkadang dia tertawa kecil melihat kelucuan
para temanya.
Sudah seminggu Nida tidak masuk sekolah, dia
juga tidak pernah menjawab pesan singkat dari Rita, Siska ataupun yang
lainya.Setelah pulang sekolah mereka berencana untuk berkunjung ke rumahnya
ternyata dia sudah dirawat di rumah sakit sejak 3 hari lalu. Nida mengidap
penyakit Ca Cervix, penyakitnya sudah lama dia derita, saat duduk di kelas 2 Sekolah Menengah
Pertama, tetapi baru tahun ini kekebalan tubuhnya mulai menurun. Saat duduk di
kelas 2 SMP dia sudah divonis dokter kalau umurnya hanya sampai 5 tahun., sejak
saat itu dia mengumpulkan uang dari perlombaan – perlombaan untuk membeli
handicham agar dia bisa mendokumentasikan keceriaan yang terjadi.
Sakit tidak membuat dia pantang menyerah, dia
tetap menjadi guru bagi teman – temanya disekolah juga sebagai guru mengaji
didekat rumahnya.saat mulai memasuki kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA) Nida
mulai sering tidak masuk tetapi dia tetap menjadi juara kelas padahal pada absensi
dapat dihitung dengan jari berapa Nida masuk dan tidak pada tiap bulan.
Bimbingan belajar mulai diberlakukan untuk persiapan menghadapi UNAS 2014.Nida
masih sering masuk untuk mengikuti bimbingan belajar di sekolah dia tidak
pernah menghiraukan penyakitnya karena dia hanya ingin merayakan kelulusan
bersama teman – temanya.
Sebelum UNAS Nida sudah benar – benar drop
tidak bisa bangun dari tempat tidur, saat itu dia benar – benar lemah tak
berdaya.Perutnya semakin membesar, tubuhnya sangat kurus, wajahnya sangat pucat
dan sekeliling matanya semakin menghitam.Detik – detik itu teman – teman masih
bisa menjenguk sebelum dia dibawa ke rumah sakit yang lebih besar. Aldo, Jojo,
Rita, Siska, dan teman lainya silih berganti masuk ruangan karena takut
mengganggu jika masuk bersamaan. Nida begitu malu dengan keadaanya, dia
menangis takut dengan semua yang akan terjadi.
Dia tidak mau dirawat di rumah sakit karena
takut membebani orang tua, teman sekelas Nida mengadakan sumbangan untuk Nida
dan doa bersama untuk kesembuhanya. Meskipun begitu dia tidak mau menerimanya
karena tidak ingin membebani banyak orang.Jojo menyemangati Nida agar tetap
kuat untuk bisa berkumpul dan bercanda bersama, mendengar itu Nida sangat
bahagia.Setelah beberapa hari dia dirawat di rumah sakit dia selalu bercerita
dan melihat rekaman moment bersama teman – teman.Saat di rawat dirumah sakit ada
seorang yang juga dirawat beberapa kamar darinya meninggal, dia mengetahui saat
jenazahnya lewat didepan pintu kamarnya, selang 2 hari orang di dekat kamrnya
juga meninggal, selang 5 hari orang disamping kamarnya meninggal. Ketakutan
mulai terselip diotaknya, fikiran yang tidak – tidak tentang dirinya mulai
melayang dibenaknya.Dia berusaha menenangkan dirinya agar tidak berfikiran
negative.
Bulan puasa sudah terlewati beberapa hari,
kondisinya semakin memburuk selang 3 hari diapun di bawa pulang kerumah oleh
orangtuanya karena dokter sudah tidak bisa berbuat apa – apa. Dirumah dia hanya
berbaring di tempat tidur. Hari itu tepat pada tanggal 24 Juni2013,Nida ingin
menonton televisi dengan adiknya. Dia menonton kartun kesukanya, pada hari itu
suasana dirumah sedikit ada perubahan. Bapak Nida tidak bekerja karena menemani
anaknya, ibu Nida ingin memasak tapi sangat malas sekali, tetapi difikiranya
akanada tamu banyak jadi dia harus memasak untuk suguhan para tamu. Adik Nida
yang biasanya bermain diluar tetapi hari
itu hanya ingin tidur disamping Nida. Entah kenapa suasana semakin aneh
dirasakan ibu Nida. Bapak dan ibu Nida tidak pernah mempunyai fikiran kalau nida
akan meninggal. Badan Nida semakin dingin, keringat dingin bercucuran dari
kepala,tangan , dan kaki.
“Kak, kenapa kamu berkeringat dingin?” Tanya bapak Nida
“Aku tidak tau pak tapi rasanya badanku panas” Jawab Nida
Perassaan bapak Nida mulai tidak karuan, Nida
ingin pergi kekamar mandi tetapi belum sempat sampai kamar mandi air seninya
sudah keluar.Sehingga harus dipakaikan popok agar tidak bocor.Pada pukul 14.37
Bapak Nida mengambil Al- Qur’an untuk mengajak Nida mengaji.Tetapi saat baru
mengucapkan kalimat istigfar 2x Nida sudah tidak bernafas, dia menghembuskan
nafas terakhir di pangkuan bapaknya.Dilain kejadian pada hari rabu teman –
teman sepakat untuk menjenguk Nida pada hari kamis karena mereka mendengar Nida
sudah dirumah.saat itu juga semua akan mengadakan buka bersama di warung makan.
Pukul 16.23 semua berkumpul di rumahnya Aldo, saat berkumpul tanpa sadar Rita berbicara nglantur.
“Do, kenapa kamu pakai baju koko hitam, kamu kamu takziah kemana?
Kata Rita
“Huss kamu tuh Rit, jangan bicara begitu.Aldo mau jadi model tau,
model majalah yasiin. Hahaha “ sahut Siska
“Jangan pada ngawur begitu dong kita kan mau buka bersama” sahut Jojo
“Lohh Jo kamu juga tumben pakai baju koko putih, biasanya gak pernah
pakai baju koko “ Tanya Rita
“Looh iya dong biar ganteng dikit lah “ Jawab Jojo
Percakapan – percakapan itu yang tanpa mereka
sadari adalah pertanda tentang kepergian Nida. Pukul 16.32 handphone Siska
berbunyi betapa shocknya Siska membaca broatcash dari teman lainya bahwa pada
jam 3 sore Nida telah meninggal dunia. Serentakmereka menjerit dan tidak
percaya tentang itu, semua mencoba mencari informasi tentang kebenaran
broatcash.Pukul 17.15 semua bergegas ke warung makan untuk berbuka puasa.Di
tempat makan tidak ada yang nafsu makan, air mata, tangan gemetaran, fikiran
semua sudah tidak focus lagi karena masih belum percaya dengan semua informasi
tersebut.
Setelah mengetahui bahwa berita itu benar
tidak ada yang memakan makanan yang telah dipesan hanya menenggak minumanya
saja untuk membatalkan puasanya.Begitu cepat kepergian Nida, tidak ada yang
menduga itu akan terjadi pada hari itu,semua mulai memikirkan kejadian saat
berkumpul di rumah Aldo dan juga saat ingin berkunjung kerumah Nida pada hari
kamis bahwa semua itu adalah pertanda. Bukan untuk melihat Nida tersenyum
tetapi melihatnya sudah terbaring kaku tidak berdaya.
Hari kamis semua orang yang ada disekolah
berduka atas meninggalnya Nida. Pagi itu juga semua guru beserta teman kelas
Nida datang untuk mengantarkan kepulangan Nida kehadapan sang halig. Tangis
semua orang mulai pecah saat Nida akan di bungkus dengan kain kafan, suasana
berubah menjadi hening yang ada hanya lantunan bacaan yassin. Guru olahraga,
Aldo, Jojo, Wiki dan bapak nida mengangkat keranda jenazah Nida untuk menuju
pemakaman umum. Setelah beberapa menit pemakaman selesai, semua orang berdoa
untuk Nida agar diampuni segala dosanya dan mendapatkan tempat yang layak
untuknya. Bunga terakhir dari teman – teman untuk nida semoga kamu tenang
disana dan bahagia dialam barumu. Kami tidak akan melupakan semua tentangmu.
Kami akan selalu merindukamu dan mendoakanmu agar kamu mendapat tempat yang
layak di sisi-Nya. Amin.
Seperti dalam cerita film “Surat Kecil untuk Tuhan “ yang diperankan oleh Dinda Hauw yang disutradarai oleh Harris Nizam. Cerita
ini benar – benar nyata dialami oleh Nida sahabat penulis yang meninggal karena penyakit kanker. Maafkan penulis bila ada kesalahan dalam
pengejaan kalimat dan sedikit terdapat kesamaan cerita.



0 komentar:
Posting Komentar